Jumat, 24 Agustus 2018 11:31 WITA

Mangaro, Tradisi Melepas Rindu kepada Jasad Kerabat di Nosu

Penulis: Yuniastika Datu
Editor: Aswad Syam
Mangaro, Tradisi Melepas Rindu kepada Jasad Kerabat di Nosu
Beberapa kerabat menggotong balun jasad kerabatnya yang sudah meninggal dalam upacara Mangaro di Nosu, Mamasa, Sulbar.

RAKYATKU.COM, MAKASSAR - Di Kecamatan Nosu, Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat, ada satu tradisi yang dilakukan setiap Agustus setiap tahunnya, yang dikenal dengan tradisi "Mangaro". Agustus bagi warga Nosu di Mamasa, juga dikenal dengan bulan liang.

Mangaro, berasal dari bahasa setempat, yang artinya melakukan pekerjaan membongkar, memperbaiki dan mengeluarkan jasad orang yang sudah meninggal (batang rabuk) dari dalam kuburan (alang-alang atau liang), sehingga dapat bertemu kembali dengan keluarganya. Bahkan keluarga dapat memeluk dan menangisi jasad tersebut.

Salah satu Senator asal Sulawesi Barat, Marthen Manggeng, mengatakan, Mangaro adalah salah satu ritual atau upacara dalam prosesi kematian seseorang, di mana orang yang sudah meninggal dua atau tiga tahun sebelumnya, kemudian dikeluarkan dari dalam kuburan untuk dibungkus kembali (istilah setempat "dibalun") oleh keluarga yang masih hidup atau keturunannya.

Menurut kepercayaan masyarakat setempat, pada umumnya kewajiban bagi manusia yang masih hidup untuk menghormati atau menghargai dan mengasihi keluarga yang sudah meninggal. Sehingga, keluarga yang masih hidup tetap melakukan ritual-ritual atau upacara kematian.

Ada kepercayaan yang mendasari dari setiap pelaksanaan ritual tersebut, bahwa dengan menghormati, mengasihi raga dari orang tua yang sudah meninggal, akan membuat arwah orang yang sudah meninggal tersebut tenang, bahkan memberikan berkat yang melimpah kepada keluarga yang masih hidup, serta akan senantiasa menjaga dan melindungi kelurga yang masih hidup dari segala marabahaya.

Kepercayaan inilah yang masih dianut sebagian masyarakat Nosu, sehingga upacara-upacara kematian termasuk ritual Mangaro masih terus dipertahankan sampai saat ini.

"Jasad yang diaro (dikeluarkan) tersebut, dibawa ke suatu tanah lapang atau daratan yang kering selama ini, biasanya ke pinggiran sungai. Jadi pada waktu pemakaman Todipandan atau Dipelima, ada uangkapan yang menyertainya yaitu 'ladipaiatai allo mebonggina' artinya ada semacam nasar atau janji dari keluarga, bahwa suatu ketika akan dikeluarkan, harus melihat matahari pagi," jelasnya.

"Prosesi dari adat tersebut, yakni dikeluarkan dari kuburan pada siang hari, kemudian jenazah dibawa dengan arak-arakan, kemudian perempuan berbaris dengan bentangan kain merah, di bawah ke Lattang(rumah-rumah kecil), kemudian ditangisi dan diperbaiki bungkusnya. Keesokan harinya dibawa pulang kembali ke kuburannya (alang-alang atau liang)," ungkap anggota DPD RI kelahiran Nosu tersebut.