Senin, 10 September 2018 21:58 WITA

FEATURE

Cerita Al Kalam, Koleksi Pusaka dari Zaman Sultan Hasanuddin hingga Baghdad

Penulis: Himawan
Editor: Aswad Syam
Cerita Al Kalam, Koleksi Pusaka dari Zaman Sultan Hasanuddin hingga Baghdad
Senjata yang akan dipamerkan Al Kalam di Gedung Jenderal M Jusuf, Selasa (11/9/2018) besok. Sumber: Himawan/Rakyatku.com

RAKYATKU.COM, MAKASSAR - Ribuan benda pusaka khas Sulawesi, terpampang rapi di setiap sisi ruangan Balai Prajurit Jenderal M. Jusuf di Jalan Jenderal Sudirman, Kota Makassar, Senin (10/9/2018).

Sore itu, dua pria berjenggot sedang duduk di depan panggung, salah satu spot benda pusaka itu lebih banyak dipamerkan. Satu pria itu berjenggot putih, dengan tongkat berkepala naga di tangan kanannya. Ia dipanggil Al Kalam. Sementara satu pria lainnya, berjenggot hitam. Ia adalah Kautsar Kalam, putra kesembilan Al Kalam. 

Sejatinya benda pusaka yang terpampang rapi itu, akan dipamerkan dalam rangka menyambut tahun baru Islam, pada 1 Muharram atau Selasa (11/9/2018) besok. Ada Parang yang terbuat dari besi, tombak berwarna cokelat, tongkat, pedang, hingga ratusan keris tak luput dari pandangan kita yang berkunjung di tempat itu. 

Cerita Al Kalam, Koleksi Pusaka dari Zaman Sultan Hasanuddin hingga Baghdad

Al Kalam (kiri) dan putranya, Kautsar Kalam.

Adalah Al Kalam yang memiliki benda-benda seperti itu. Ia mengumpulkan benda-benda pusaka ini, dari puluhan tahun silam sejak ia menginjakkan kakinya di Makassar. Awalnya, Al Kalam bermain musik di kampung halamannya di Wajo pada 1965 silam. 

"Dulu saya main orkes. Masuk ke pelosok-pelosok. Baru di Makassar saya pindah ke kerajinan tangan," kata Al Kalam saat diwawancarai. 

Al Kalam sendiri mulai tertarik mengumpulkan benda pusaka ini sejak 20 tahun lalu. Menurutnya, penting bagi masyarakat terkhusus warga Sulawesi Selatan, untuk mengetahui peninggalan sejarah khas Sulawesi. Ia menceritakan, dirinya memiliki benda pusaka berupa keris peninggalan Sultan Hasanuddin sebanyak 32 buah. 

"Dalam setahun itu, saya cuci 3 kali setahun pakai jeruk nipis, agar besinya terhindar dari karatan," ucap Al Kalam, sambil mengembuskan asap rokok yang diisapnya. 

Berbagi tempat didatangi Al Kalam, untuk mendapatkan benda pusaka ini. Mulai dari dalam Sulawesi dan penjuru nusantara lainnya. Tak hanya itu, benda pusaka dari Arab dan Persia berupa pedang, turut dikoleksinya. 

Al Kalam bercerita, benda pusaka ini tak lebih dari peninggalan sejarah. Ia menepis, ada kekuatan supranatural dari benda pusaka yang dipamerkannya. Menurutnya, kekeramatan benda seperti itu tidak akan ada, karena yang keramat hanyalah manusia. 

"Itu," tunjuknya di salah satu peti yang masih tertutup rapat. "Di dalam situ, ada parang dari besi tua bersejarah yang paling saya suka. Empat tahun sebelum saya dapat, ada berita dari 'penghuni' Bawakaraeng, kalau dia mau kasi saya begini," lanjutnya sambil duduk memegang tongkat berkepala naganya. 

Al Kalam sendiri mengaku, benda pusaka yang dipamerkan dalam pameran tunggalnya, tidak hanya dibelinya. Namun, ada juga benda pusaka yang ia buat. Sejak 1999, ia membuat beberapa benda pusaka berupa parang. Cara buat ini didapatnya pada 1955 silam, yang kala itu ia berprofesi sebagai tukang emas. 

Sebelum mengakhiri perbincangan dengan Al Kalam, beberapa pengikut Al Kalam, yang mengatasnamakan Laskar Rasulullah, tetap awas menjaga benda-benda pusaka yang terpajang di Gedung Jendral M. Jusuf ini. Pameran sendiri akan dibuka pada pukul 08.00 Wita besok. 

Kautsar Al Kalam, ketua panitia yang juga putra kesembilan Al Kalam menyebut, pameran ini untuk melestarikan benda pusaka dari Sulawesi Selatan. Menurutnya, pameran ini begitu penting, dan tidak sepeser pun dipungut biaya bagi pengunjung. Namun, jangan coba-coba untuk membeli benda pusaka ini, karena Al Kalam sudah menggaransi, benda pusaka ini tak diperjualbelikan. 

"Dulu sudah ada turis yang menawari harga, tapi kami tidak berikan," pungkas Kautsar.